Behavioral Economics in Action

Pada hari rabu minggu lalu (02/10), saya mengikuti kapita selekta berjudul Behavioral Economics in Action. Topik ini dibawakan oleh Bapak David Pranata yang merupakan fasilitator mata kuliah Entrepreneurship UC yang kesehariannya juga berprofesi sebagai trainer, speaker, sekaligus motivator. 

Behavioral Economics in Action adalah ilmu baru yang saat ini sedang marak diperbincangkan dan dipelajari. Salah satu fakta unik yang mendasari ilmu ini adalah adanya hasil penelitian yang mengungkapkan bahwa manusia itu makhluk irasional. Ini terbukti dari adanya berbagai kondisi yang diluar nalar dan logika.

Dari penjelasan yang disampaikan kemarin, saya memahami bahwa ilmu ini dapat diterapkan terutama dalam memperngaruhi pengambilan keputusan. Ada beberapa teknik yang digunakan, antara lain:

  • The Power of Default -> kekuatan dari kondisi awal. Contohnya metode penjualan yang dirapkan di rumah makan padang atau di tempat makan lain yang menggunakan metode menaruh makanan di atas meja semua pengunjung, baik yang dipesan atau tidak. Jadi, disini kondisi awal yang diterapkan adalah makanan itu tetap disuguhkan pada pengunjung meski ia tidak memesan. Setelah dilakukan survey, ternyata penjualannya meningkat. Ini menunjukkan bahwa metode ini dapat mempengaruhi bahkan meningkatkan kemungkinan konsumen untuk membeli makanan tersebut.
  • Comparison -> seseorang suka membandingkan sebiuah kondisi dengan kondisi lain yang sejenis dan telah ia ketahui atau alami sebelumnya. Oleh karena itu, untuk dapat mempengaruhi pengambilan keputusan seseorang, perlu dilakukan penuturan tentang kondisi pembanding dengan hal yang akan ditanyakan. Misalnya, harga 1 barang kemudian dibandingkan dengan harga barang lain yang mirip disertakan juga dengan benefit yang ditawarkan. Dengan memberikan pembanding semacam ini, maka dapat meningkatkan kemungkinan konsumen melakukan pengambilan keputusan membeli produk yang kita tawarkan.
  • Relativity -> memberikan sisi positif dan negatif dari suatu hal

Hal lain yang juga terkait dengan ilmu ini adalah tentang Psychology of Money

  • Opportunity cost -> membuat penawaran lebih menarik dengan memberikan bonus-bonus tambahan pada penjualan produk. Misalnya pada penjualan laptop, smartphone, atau gadget lain. Seseorang akan cenderung untuk membandingkan harga di satu tempat dan yang lain. Penawaran yang menarik dan spesifik dapat lebih meningkatkan kecenderungan konsumen untuk membeli produk. Misalnya saja, Samsung galaxy note 3 seharga 4 juta dengan bonus berupa voucher starbucks senilai 300.000, case, dan voucher XXI senilai 200.000 menjadi terlihat lebih menarik bagi sebagian orang dibandingkan dengan Samsung Galaxy note 3 seharga 4,5 juta saja tanpa adanya bonus-bonus tertentu.
  • Pain of Paying -> mengeluarkan uang secara cash menjadi sumber “pesakitan”, apalagi jika dalam jumlah besar. Prinsip Pain of Paying ini kemudian diterapkan dalam penggunaan kartu kredit saat berbelanja. Adanya kartu kredit ini dapat meningkatkan kemungkinan seseorang membeli sesuatu karena mereka tidak merasa secara langsung mengeluarkan uang dalam bentuk cash. Pemanfaatan yang lain adalah dengan penggunaan card saat pembelian makanan di food court tertentu. Selain itu, ini juga dimanfaatkan dalam transaksi judi di casino, yang digunakan bukanlah uang dalam bentuk cash tapi dalam bentuk koin.

Itulah sebagian wawasan baru sekaligus pembuktian terhadap fakta-fakta menarik yang ada saat ini. Ternyata, dalam pengambilan keputusan manusia bisa juga tidak berfikir secara logis. Ini bisa menjadi senjata bagi para pelaku bisnis untuk dapat mempengaruhi pengambilan keputusan calon konsumen.

Iklan

Whoa..Yes, I can!!!

Kalau ditanya apa yang membuatmu merasa happy, pasti beragam jawaban yang diberikan dan kemungkinan juga kerepotan untuk memilih salah satu yang mau diceritakan. Hehehe..itu juga yang saya rasakan saat akan menulis ini. Ide buat nulis salah satu hal yang membuat saya happy pada tulisan ini muncul saat saya asik googling tentang quotes dan akhirnya menemukan satu yang menginspirasi. Nah, ini dia quotes-nya..

quotes

Saat membaca quotes itu, saya teringat pengalaman-pengalaman saya sejak awal masuk Universitas Ciputra (UC). Tanpa saya sadari, sejak saat itu hingga saat ini, saya menjadi seseorang yang bisa dibilang HEBAT karena berani mencoba keluar dari zona nyaman. Anggaplah ini reward yang saya berika kepada diri saya sendiri. Bukan hanya sekali, tapi berulang kali. Keluar dari zona nyaman ini awalnya hanya sekedar kuliah di luar kota yang jauh dari orang tua dan keluarga. Tetapi, sejak saat itu, saya bisa lebih berani mencoba hal-hal baru yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, misalnya berorganisasi yang dulu sama sekali belum pernah saya lakukan, SKSD sama temen-temen yang benar-benar baru :p, coba jadi mentor, coba PeDe presentasi, coba nulis dan masuk ke dunia jurnalistik, coba jadi marketing, dan yang paling baru adalah coba jadi moderator debat hahaha..:D.

Buat orang lain, mungkin ini bukan hal yang luar biasa, tapi bagi saya, ini adalah pengalaman yang hebat karena sebelumnya bahkan saya takut buat melakukan sesuatu diluar dari apa yang sudah saya bisa sebelumnya. Setelah saya mencoba dan tahu ternyata saya bisa, rasaya benar-benar HAPPY, takjub, ajaib, WHOA..YES I CAN!!! Jangan bilang ini berlebihan ya tapi ini benar-benar saya rasakan. Seakan-akan saya  baru tahu bahwa ternyata saya bisa juga ngelakuin ini, hal yang belum pernah terpikir sebelumnya akan saya lakukan hahaha.. Pernah merasa seperti itu juga?

Dari pengalaman-pengalaman ini, saya mendapat pelajaran bahwa sebenarnya kita bisa melakukan apa saja, asal kita mau mencoba, belajar, bahkan kalau perlu memaksa diri kita untuk mau melakukan sesuatu. Saya salah satu orang yang butuh memaksa diri sendiri untuk mencoba sesuatu. Mencoba adalah kunci utamanya, karena dengan mencoba, kita akan tahu atau bahkan membuat diri kita terkejut sendiri dengan mengetahui bahwa ternyata kita BISA.

 

 

 

Networking = Kebutuhan ??

networking

Kalo baca judul itu mungkin akan ada yang terheran-heran dan berpikir apa coba hubungannya networking dan kebutuhan. Yup.. itu dia yang terlintas di kepala saya ketika saya masuk Universitas Ciputra dan belajar tentang entrepreneurship. Pada mata kuliah inilah saya baru mendengar para fasilitator menggembar-gemborkan kata “networking” sejak semester 1 hingga saat ini saya menginjak semester 5. Jadi, bisa dikatakan juga bahwa makhluk bernama “networking” yang dulunya terdengar seperti makhluk asing, saat ini telah menjelma menjadi teman sehari-hari.

Seperti yang sudah saya katakan, perkenalan pertama saya dengan networking ini terjadi saat semeter 1 mata kuliah entrepreneurship. 
Untuk lebih sederhananya, networking ini adalah teman, kenalan, relasi yang kita miliki. Nah, lalu apa gunanya networking ini? ini berguna di berbagai bidang termasuk dalam entrepreneurship. Saat semester 1, saya memanfaatkan networking ini untuk menawarkan produk yang saya jual saat personal selling. Saya masih ingat saat itu diminta untuk membuat sebuah mind map besar yang berisi networking atau jaringan yang saya punya. Lucunya, saya benar-benar berusaha mengingat semua teman, keluarga, mantan pacar, saudara, bahkan sampai temannya saudara untuk memperbanyak jumlah networking ini. Dan ini bukan dilakukan oleh saya saja, tapi kebanyakan teman melakukan hal yang sama. Karena dalam pemikiran kami, bisa jadi semakin banyak jumlah network yang ditulis, maka akan semakin bagus juga nilainya. Saya sering tertawa sendiri jika mengingat pengalaman ini. Ini mungkin hanya sekedar pengalaman kecil saja tentang networking tapi saya akui ini ampuh untuk menstimulus agar semakin memperluas networking. Saya mengatakan ini pengalaman kecil, karena ke depan, pada semester-semester selanjutnya, pengalaman networking semakin serius dan tak main-main. 

Semenjak itu, networking bukan lagi sesuatu yang asing bagi saya. Pengalaman networking lain yang lebih seru terjadi ketika semester 3. Saat itu, saya masuk di kelas E3 dan membuat bisnis berkaitan dengan pembuatan souvenir dengan bahan baku berupa kertas daur ulang. Jujur saja, hal-hal semacam ini sangat asing, mengingat juga kelompok saya terdiri dari 5 orang yang semuanya perempuan. Jadi, sejak awal pendirian bisnis ini kami sangat kelimpungan mencari networking yang berkaitan dengan kebutuhan bisnis kami ini, antara lain supplier kertas, percetakan, dan outlet penjualan. Demi mendapatkan itu semua, kami mengerahkan usaha keras dan memanfaatkan semua sumber informasi, mulai dari internet, bertanya pada dosen dan fasilitator, bahkan sampai harus jauh-jauh ke Malang.

Seperti kata pepatah, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, setelah berusaha keras mencari informasi dari berbagai sumber dan juga memanfaatkan network yang kami miliki, akhirnya kami mendapatkan semua kebutuhan itu. Bahkan, ada 1 kejadian yang cukup menarik ketika saya mencari informasi tentang supplier kertas. Untuk mencari informasi, saya harus jauh-jauh ke Malang untuk bertanya pada saudara saya yang memiliki teman di bidang pembuatan souvenir. Setelah mendapatkan alamat si  pembuat souvenir tersebut yang masih berada di Kota Malang, saya coba mendatanginya. Ini belum menjadi ujung dari proses pencarian saya. Dari si pembuat souvenir ini, saya mendapat informasi tentang supplier kertas yang menyediakan kertas daur ulang dan letaknya di Kota Surabaya.

Nah, dari pengalaman ini, saya menyadari betapa panjangnya rantai informasi yang harus kami lalui untuk mendapatkan hal yang kami butuhkan. Dan informasi-informasi ini bersumber dari network luas yang kita miliki. Jadi, percayalah bahwa networking adalah kebutuhan. Sejak dini, bergegaslah untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya network. Ini adalah bagian penting dari segala hal, baik informasi, berbisnis, bekerja, belajar, atau apapun. Berusahalah dan suatu saat kita akan menuai hasilnya. 🙂  

 

Buat HAPPY Butuh Usaha?!

 

smile1

 

Kira-kira apa ya yang orang pikirkan ketika membaca judul tersebut? Pasti banyak versi dan pendapat yang mereka lontarkan. Saya mendapat ide untuk menulis ini karena saya baru saja mendapat pengalaman yang bisa dibilang baru bagi saya. Penasaran? Baca sampai akhir ya.. Enjoy reading 🙂

Selama ini, banyak orang yang mengatakan “bahagia itu simple ya..”. Kalimat ini sering saya dengar dan tidak sulit memahami ini. Saya juga sering mendapat pengalaman seperti ini. Kalimat ini ingin menyatakan bahwa kita tidak perlu melakukan sesuatu yang luar biasa untuk bisa mendapatkan kebahagiaan. Ada lagi yang mengatakan bahwa “senyum membawa bahagia”. Ini juga bisa saya mengerti dengan mudah. Tersenyumlah maka kita akan bahagia, bukan bahagia baru kita tersenyum.

Tapi, baru-baru ini saya menyadari bahwa ada hal baru, asing, lain dari yang selama ini saya sadari, yaitu “buat HAPPY butuh usaha?!”. Ini terjadi ketika saya harus melakukan usaha ekstra untuk menyeret, menarik, memaksa diri saya untuk bisa tulus dan suka cita melakukan sesuatu yang sejak awal saya lakukan karena terpaksa dan “dipaksa”. Saya merasa bahwa perasaan semacam ini begitu sulit untuk ditimbulkan.

Sejak awal saya merasa sangat terpaksa melakukan sesuatu bahkan sampai membuat saya ingin marah-marah. Bayangkan saja ketika kamu “dipaksa” oleh teman untuk melakukan sesuatu yang bisa dibilang “menguntungkan dirinya” dengan cara yang dalam pemikiranmu tidak seharusnya dilakukan. Mengingat karena adanya hukum teman dan juga rasa sungkan, akhirnya saya setuju untuk melakukan hal yang dimintanya tersebut. Perasaan ingin marah-marah, tidak tulus, terpaksa ini kemudian menimbulkan kesulitan-kesulitan baru yang mengikutinya. Entah hukum alam atau kekuatan apa yang membuat menjadi seperti itu. Hal ini semakin membuat saya merasa putus asa. Saya berpikir bahwa mau tidak mau saya harus mendinginkan hati dan pikiran agar semua dapat kembali netral dan dalam kondisi baik. Sulit sekali mewujudkan semua ini. Saya harus berdoa, mengelus dada berulang kali, tarik nafas panjang, hingga mengatakan kalimat-kalimat positif untuk meyakinkan diri saya bahwa saya bisa mengalahkan perasaan dan pikiran negatif dalam diri saya.

Setelah melalui perjuangan yang melelahkan tersebut, setelah merasa capek hati dan pikiran, akhirnya saya bisa mengalahkan diri saya sendiri dan mulai memunculkan pikiran-pikiran positif yang kemudian membuat saya lebih tenang. Setelah perjuangan panjang tersebut, saya benar-benar merasa lega, senang, dan gembira melakukan sesuatu yang awalnya membuat saya dongkol.

Jadi, pelajaran yang bisa saya dapat adalah pertama, kita harus bisa menjaga hati dan pikiran untuk selalu positif, maka hal-hal positif juga akan datang mengikutinya. Kedua, lawan terberat dari diri kita adalah mengalahkan diri kita sendiri. Cobalah, maka kamu akan tahu betapa lega dan senangnya setelah berhasil melakukannya. Dan yang terakhir, dari semua pengalaman yang kita punya, betapa baik atau betapa buruknya hal tersebut, selalu tersimpan pelajaran positif yang dapat kita ambil sebagai bekal untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang.

Semoga bermanfaat dan menginspirasi mereka yang sedang dongkol atau berpikir negatif akan apa yang terjadi 🙂

Nano Nano Jogja Trip :):

trip Jogja E5 Social Class

Selasa (10/09), rombongan E5 Social Class berangkat menuju kota pendidikan Yogyakarta untuk pelesir sekaligus mengunjungi dan belajar dari bisnis-bisnis sosial yang ada di sana. Ada 4 tempat yang kami kunjungi, yaitu SALAM, Yayasan Satu Nama, UPKM/CD Bethesda, serta pengrajin mainan edukasi anak.

Setiap tempat yang kami kunjungi memiliki spesialisasi di bidangnya masing-masing dan pastinya bergerak di bidang sosial. SALAM adalah sebuah sekolah di tingkat TK, SD, SMP yang mengusung tema belajar alamiah. Apa itu belajar alamiah? Anak belajar di lingkungan hidup mereka. Dalam konteks sekolah SALAM ini, anak-anak belajar di sebuah desa dengan bangunan sekolah yang dikelilingi hamparan sawah hijau, angin semilir khas pedesaan, lengkap dengan pemandangan para petani yang sedang menggarap sawahnya. Sekolah ini bukan hanya sekedar memberikan nilai-nilai akademis pada siswa, tapi juga berupa keterampilan penting yang saat ini tidak lagi menjadi perhatian sekolah-sekolah lain pada umumnya.

Tempat kedua yang kami kunjungi adalah Yayasan Satu Nama. Yayasan yang telah berkiprah sejak 1987 ini bergerak di bidang peningkatan kesejahteraan sosial. Seiring dengan usia berdirinya yang sudah sangat lama, kiprahnya dalam mengupayakan kesejahteraan masyarakat juga telah merambah ke berbagai tempat di Indonesia dan di berbagai bidang.

Selanjutnya, kami mengunjungi UPKM/ CD Bethesda yang lebih mengkhususkan pelayanan mereka di bidang kesehatan masyarakat. Mereka telah berkiprah di seluruh pelosok Indonesia. Kegiatan yang mereka lakukan antara lain adalah penanganan korban-korban bencana, pelayanan kesehatan bagi para buruh. Tak hanya sampai ke pemecahan masalah kesehatan, yayasan ini juga berusaha memberangus akar dari masalah kesehatan yang menimpa masyarakat atau komunitas tertentu. Uniknya, tidak semua anggota yang tergabung di dalam yayasan ini memiliki dasar pendidikan di bidang kesehatan. Mereka semua percaya bahwa segala sesuatu dapat dipelajari jika kita memang mau berbuat dan berusaha.

Terakhir, kami mengunjungi pengrajin mainan edukasi anak. Seperti pengrajin mainan anak yang lain, mereka pastinya memiliki skill yang tak perlu diragukan lagi dalam pembuatan mainan anak-anak, termasuk juga selalu menjaga kualitas nomor 1 dari produk-produk mainan anak yang mereka buat, misalnya penggunaan cat anti toxic yang tentunya sangat dianjurkan bagi mainan anak. Tetapi, tak mungkin sesuatu yang tidak memiliki keunikan mampu menarik minat kami mengunjungi tempat ini. Seluruh pegrajin yang ada di tempat ini, bahkan juga pemiliknya adalah kalangan difable yang jika dilihat secara kasat mata mereka memiliki kekurangan secara fisik. Ternyata setelah berkunjung dan melihat sendiri mereka bekerja, kami semua tahu bahwa hambatan bukan menjadi masalah bagi mereka untuk dapat terus berkarya. Bahkan, mereka memiliki prinsip yang kuat untuk dapat menghasilkan produk yang memiliki kualitas nomor 1.

Dari semua tempat yang telah kami kunjungi, banyak sekali inspirasi dan pembelajaran yang dapat dipetik. Dalam memberikan pelayanan pada masyarakat ataupun melakukan pemberdayaan masyarakat, sangat penting untuk mengetahui kearifan lokal dari masyarakat yang akan dituju. Mengetahui kondisi kehidupan, kebutuhan mereka, serta kemampuan masyarakat tersebut sangat membantu dalam efektifitas usaha pemberdayaan yang akan dilakukan. Jangan sampai kita hanya peduli pada kepentingan dan kemudahan kita sendiri dalam mewujudkannya, tapi cobalah untuk memposisikan diri di posisi mereka, maka kita akan dapat merasakan dan mengusahakan yang terbaik bagi mereka.

Trip Jogja E5 Social Class ini sangat menyenangkan sekaligus melelahkan. Banyak sekali pembelajaran , inspirasi, dan pengalaman baru yang kami dapatkan. Tapi dibalik rasa manis yang memanjakan itu, kami telah ditunggu oleh segudang tugas dan jadwal padat UTS yang memberikan rasa-rasa lain, tak lagi manis, yang harus siap kami hadapi.

Konsumsi Makanan Sehat dengan Tetap Menjaga Kondisi “Kantong”

cheap and healthy food

Saat ini, semua orang berbondong-bondong mencari cara untuk hidup sehat, salah satu yang banyak digunakan adalah dengan mengkonsumsi makanan sehat. Diantara mereka yang mengkonsumsi makanan sehat ini, terdapat golongan muda, para mahasiswa yang juga ingin menjadi sehat melalui cara ini.

Seperti yang kita tahu, ada banyak cara untuk memperoleh makanan sehat. Sayangnya, tidak dapat dipungkiri bahwa untuk dapat memperoleh makanan sehat dibutuhkan biaya yang lebih tinggi ketimbang makanan biasa pada umumnya. Mengetahui hal ini, maka masalah lain muncul, khusunya bagi para mahasiswa, yaitu menyangkut kondisi keuangan mereka.

Oleh karena itu, cara yang paling mudah untuk dapat tetap sehat dengan mengkonsumsi makanan sehat adalah dengan membeli bahan mentah dan kemudian mengolahnya sendiri, dengan catatan tidak menggunakan bahan-bahan penyedap rasa, misalnya MSG. Jika memang terpaska harus membeli makanan, maka sebaiknya pilih makanan yang dimasak secara dadakan saat ada pesanan, sehingga kita bisa meminta pada penjual untuk tidak menggunakan MSG atau bahan lain yang tidak sehat. Dengan demikian, kita tetap bisa mengkonsumsi makanan sehat tanpa harus repot memasak sendiri dan tetap bisa makan enak dengan harga sesuai dengan kondisi kantong.

:) Yang Kubawa Pulang Hari Ini…

smile

Saat membaca tulisan ini mungkin ada yang bertanya-tanya apa maksud dari judul itu. 🙂 Yang Kubawa Pulang Hari Ini, ya mungkin itulah yang paling tepat menggambarkan hari Rabu (04/09) kemarin. Mengapa? Karena hari pada hari itu banyak kejutan dan kesenangan yang kudapatkan.

Seperti biasa, hari Rabu adalah hari keramat Universitas Ciputra Surabaya yang harus ditempuh oleh seluruh mahasiswa dengan berpakaian rapi layaknya eksmud (eksekutif muda) dan mendapatkan mata kuliah entrepreneurship. Dan itu pula yang kulakukan. Tapi, ada kesan berbeda dari kelas ini, sangat berkesan, bahkan membekas hingga bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Ini adalah pertama kalinya, setidaknya sepanjang E5 Sosial ini hehehe…:p

Pagi hari saat mulai kuliah, kami sudah sangat dikejutkan dengan pengumuman dari para fasilitator bahwa kelas kami akan pergi ke Jogja minggu depan. Kami, ya kupikir seisi kelas pasti merasakan beragam perasaan. Semua perasaan bercampur menjadi satu, mulai kaget, senang, girang, bingung, hingga ada juga yang menyayangkan dan kecewa. Kaget karena sangat mendadak, senang dan girang karena membayangkan bakal rame-rame melancong ke Jogja, bahkan ada juga yang kecewa dan dilema karena membayangkan tugas yang begitu banyak untuk UTS tapi diiming-iming pergi ke Jogja hahaha…

Tapi, satu hal yang pasti kelas E5 Sosial hari ini adalah yang paling menyenangkan. Bukan sekedar karena akan jalan-jalan ke Jogja, tapi materi yang dibawakan tentang pengembangan komunitas dan contoh-contoh beberapa komunitas yang diberdayakan oleh social entrepreneur juga sangat menarik dan menginspirasi. Semoga ini juga menjadi bekal kami jalan-jalan sekaligus berkunjung ke beberapa bisnis sosial yang ada di Jogja.

Terimakasih Empat Serangkai Pak Nur, Pak Fredy, Pak Dewa, serta Pak Eko yang telah menginspirasi dan membawa kesenangan bagi kelas E5 Sosial sebelum kami bertempur menghadapi Ujian Tengah Semester.

Happy “HOLIDAY” E5 Social Class \(^_^)/