Ekspresi Tanpa Ruang = Nihil

Pagi yang cerah di minggu pertama kuliah, terlihat empat orang mahasiswi diantara puluhan mahasiswa lain, sedang duduk malas di kelas pagi mereka. Itulah yang selalu mereka lakukan beberapa hari terakhir. Ini memang bukan minggu pertama empat serangkai ini duduk di bangku kuliah, melainkan awal tahun ke-3 mereka berstatus sebagai seorang mahasiswa. Tapi, tetap saja bagi mereka minggu pertama kuliah setelah libur lebih dari sebulan memang masa-masa yang agak berat dijalani.

Rasa kantuk dan malas mengikuti perkuliahan pagi itu bahkan tak mampu mengalahkan pamor para fasilitator kelas Social Entrepreneurship 5 yang hingga berbusa-busa menyampaikan materi perkuliahan. Tetapi tiba-tiba, bak sebuah gong besar yang dibunyikan langsung di telinga mereka, project tak terpikirkan terpampang di depan mata. Karena ini kelas social entrepreneurship 5, para fasilitator meminta para mahasiswa untuk membuat project pemberdayaan komunitas atau kelompok masyarakat yang mengalami problem sosial. Dengan harapan, para mahasiswa dapat memulai debut mereka sebagai seorang social entrepreneur sejak di bangku kuliah.

Sontak, empat serangkai yang terdiri Rossi, Novi, Hilfi, dan Lia, yang juga sekelompok dalam pembuatan tugas ini kaget dan bingung dengan apa yang harus mereka kerjakan. Satu hal yang pasti bahwa project ini benar-benar obat yang mujarab menghilangkan rasa kantuk mereka.

Sejak saat itu, mereka memulai diskusi kecil-kecilan memikirkan ide untuk project yang tak terprediksi ini. Berbekal dengan gambaran masalah sosial yang dijelaskan oleh para fasilitator, mereka mulai mencari informasi dari internet, teman-teman kampus, dan dosen. Satu-satunya modal yang mereka miliki adalah passion mereka terhadap budaya Surabaya dan Jawa. Ini juga yang akhirnya membuat mereka mendirikan usaha souvenir yang memiliki value budaya maupun sejarah Surabaya dan Jawa.

Berangkat dari passion ini juga, akhirnya muncullah ide project mereka. Ide ini muncul dari Rossi di tengah diskusi alot yang sedang mereka lakukan. Dengan binar semangat di wajahnya yang dibumbui sedikit keraguan, ia menyuarakan ide di kepalanya.

Rossi tiba-tiba bergumam, “Hmm..bagaimana dengan komunitas pelukis jalanan? Mereka tidak punya tempat tempat untuk berekspresi. Ini adalah masalah karena mereka punya potensi tetapi terbatas dalam merealisasikannya.”

Novi mulai menanggapi, “Benar, bisa jadi. Belum lagi tentang masalah nilai ekonomis dari hasil karya mereka. Dengan menjualnya di jalanan, mungkin mereka harus menjualnya dengan harga yang lebih murah. Padahal, dari segi hasil, lukisan mereka tidak kalah dengan pelukis lain yang bisa menjual karya mereka di galeri.”

Hilfi dan Lia pun sepakat dengan ide yang dilontarkan oleh Rossi. Dengan berbekal informasi yang mereka cari di internet, tidak adanya ruang berekspresi yang layak bagi para pelukis jalanan ini memang menjadi masalah di Surabaya. Bahkan dari beberapa artikel yang didapat, para seniman jalanan sampai mendatangi para petinggi Kota Surabaya menuntut disediakannya tempat bagi mereka untuk dapat mengekspresikan potensi yang mereka punya, layaknya Yogyakarta punya Malioboro atau Jakarta yang punya Pasar Seni Ancol.

pelukis jalanan

Setelah sepakat dengan ide project yang akan direalisasikan, mereka mulai pergi ke lapangan mengunjungi sudut-sudut jalan kota yang biasa menjadi tempat mangkal para pelukis jalanan ini. Ketika melakukan wawancara langsung untuk mengorek tentang fenomena yang dihadapi oleh para pelukis jalanan ini mereka mengetahui bahwa saat ini, bisa dikatakan jumlah pelukis jalanan sudah semakin berkurang jumlahnya. Salah satu sebabnya adalah seringnya mereka menjadi korban pengusiran oleh para aparat keamanan. Ternyata, selain tidak disediakan tempat untuk dapat berekspresi dan menjual hasil karya mereka, juga tidak ada jaminan bagi mereka untuk dapat menempati sudut-sudut jalan sebagai lahan mereka mencari nafkah.

Nah, setelah mendapatkan berbagai informasi tersebut, Rossi, Novi, Hilfi, dan Lia melakukan konsultasi pada dosen mereka. Dan dosen mereka merasa sangat terkesan dengan kepedulian mahasiswanya terhadap para pelukis jalanan. Bahkan, dosen ini juga membantu memberikan ide untuk realisasi project mereka yaitu mengadakan pameran lukisan sebagai wadah para pelukis jalanan memamerkan dan juga menjual hasil karya mereka. Melalui pameran tersebut tentunya pelukis jalanan ini dapat menjual lukisan mereka dengan harga yang sedikit lebih tinggi. Bahkan, tidak menutup kemungkinan bagi para pelukis tesebut untuk mendapatkan jaringan orang-orang besar yang nantinya datang saat pameran.

Tapi, demi tercapainya project mereka, masih banyak hal yang harus mereka pusingkan. Hal yang tentunya sangat penting adalah pendanaan. Dengan adanya usaha souvenir yang telah mereka bangun, maka hasil dari penjualan souvenir tersebut dapat mereka gunakan untuk membiayai pameran yang akan mereka selenggarakan. Sisanya mereka mencoba untuk mengajukan kerjasama dan meminta sponsor pada berbagai pihak.

Selain pendanaan, mereka berempat juga melakukan pendekatan dengan para pelukis jalanan. Pendekatan ini dilakukan agar mereka bersedia untuk terlibat dalam pameran lukisan. Selain pendekatan secara personal, juga harus dilakukan pendekatan secara kelompok dalam bentuk sosialisasi tentang pameran lukisan yang akan dilaksanakan. Yang disosialisasikan antara lain menyangkut acara, tujuan, serta manfaat yang dapat diperoleh jika terlibat dalam acara ini.

Setelah melakukan berbagai upaya, mulai dari pencarian ide, terjun langsung ke lapangan, mencari pemecahan masalah dari problem yang dialami oleh para pelukis jalanan, hingga segala persiapan pameran yang telah dilakukan, akhirnya terselenggaralah pameran lukisan bagi para pelukis jalanan di Kota Surabaya.

Empat serangkai yang baru memasuki debut pertama mereka dalam dunia social entrepreneurship ini tentu merasa sangat gembira dapat terlibat memperjuangkan kebutuhan sebagian kecil kelompok masyarakat yang membutuhkan ruang untuk dapat berekspresi demi keberlangsungan hidup mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s